Wednesday, April 09, 2008

Mungkin kita bisa menapak ke depan

Mungkin kita bisa menapak ke depan
Menguak kabut itu bersamamu, menata kembali ruang
Sambil terus berunding dengan waktu.
Dan badai. Tentu, badai itu pasti menyongsong
Tapi coba kita lunakkan, kita lembutkan
Dengan sabar dan shalat
Kemudian atas kerjasama yang baik dengan Tuhan
Kita mohonkan agar tantangan itu diperkenankan
Menjelma jadi rahmat dan kegembiraan

Jaman yang berganti-ganti dan tak masuk akal
Perjuangan berputar-putar, tak jelas maju mundurnya
Topeng-topeng berubah-ubah, tak tahu mana ujungnya
Memberiku kewajiban kemakhlukan, kewajiban persaudaraan
Kewajiban sesamawarga suatu negeri
Sesama anggota suatu masyarakat. Terlebih-lebih
karena kewajiban cinta uluhiyah dan kemesraan kemanusiaan
Membuatku terpojok dan berpikir untuk menapak ke depan
Bersamamu. Tapi mungkin juga tidak
Segala sesuatunya bergantung pada ketetapan hatimu

Aku akan membisikkan sesuatu ke telingamu
Akau akan langkahkan kaki dan gerakkan tanganku bersamamu
Bisikan pertama sebelum bersama kita tempuh perjalanan
Atau mungkin ini bisikan terakhir, sesudah berpuluh tahun
Kutiup gendang batinmu dengan beribu bisikan
Beribu teriakan, bahkan beribu pekikan, yang kau sia-siakan
Sesudah kubung-buang diriku sendiri ke semak-semak kesunyian
Untuk menghasilkan kebebalan yang terus-menerus
Pergumulan asyik yang tak sudah-sudah dengan kebodohan
Menyerah kepada keputus-asaan bersama yang ditutup-tutupi

Aku akan membisikkan sesuatu ke lubuk kesadaranmu
Karena waktu bagimu dalam hidupku sudah hampir habis
Aku sudah tua dan tidak mungkin meneruskan langkah
Yang tanpa pengharapan apa-apa bagi kemajuan hidupmu
Aku sudah senja dan tidak lagi akan kutaburkan benih-benih
Yang tak kau sirami,tak kau pelihara, bahkan kau injak-injak sendiri
Aku sudah udzur dan tidak sanggup lagi setiap kali menjumpaimu
Terpuruk lagi dan terpuruk kembali di lembah kesengsaraan
Yang disebabkan oleh kemalasan berpikir
dan ketidaksungguh-sungguhanmu sendiri dalam bersikap

No comments: